
PERNAHKAH kita merasa bahwa hidup ini benar-benar buruk dan tidak berarti sama sekali? Adakah kehidupan di bagian dunia lain bisa membuka mata kita untuk melihat kenyataan yang ada? Kita berpikir bahwa hidup yang kita jalani justru telah menambah kesulitan dan beban kita. Segalanya menyebalkan dan tidak berguna. Namun semua itu akan berubah secara total jika kita menengok ke bagian dunia lain. Ada seseorang yang mempunyai dua pekerjaan dengan penghasilan yang minim, namun bisa bahagia dan bersukacita. Padahal dengan gaji yang minim ia menyokong kedua orangtua, mertua, istri, dan dua orang putri mereka ditambah banyak tagihan rumah tangga yang lain. Suatu kali ada seorang yang hidupnya berubah setelah mengikuti tur ke India. Ia melihat apa yang terjadi di depan matanya yakni seorang ibu yang rela memotong tangan kanan anaknya dengan sebuah golok.
Keputusasaan sang ibu dan jeritan sang anak berusia 4 tahun terus menghantuinya. Mengapa sang ibu tega memotong tangan anaknya? Apakah karena anaknya “nakal” atau karena tangannya terkena penyakit sehingga harus di potong? Tidak. Sang ibu memotong tangan anaknya agar bisa mengemis! Ia sengaja menyebabkan sanaknya cacat, agar bisa dikasihani oleh orang-orang yang ada di jalanan!
Itulah kenyataan. Ada hal yang mengerikan sedang terjadi di belahan dunia yang lain. Pengalaman orang ini semakin bertambah ketika ia berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan potongan kecil roti yang dimakan ke tanah. Dalam sekejap mata, segerombolan anak mengerubungi potongan roti kecil dan kotor itu untuk memakanya. Karena terkejut, ia menyuruh pemandunya mengantarnya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan membeli semua roti yang ada dengan membayar $100 untuk membeli 400 potong roti dan $100 lagi untuk barang keperluan sehari-hari. Ia kembali ke jalan dengan membawa satu truk roti dan barang keperluan sehari-hari untuk dibagikan kepada anak-anak yang cacat dan beberapa orang dewasa. Ia menerima imbalan yang tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang ini. Itulah sukacita pertama yang ia rasakan dalam hidupnya. Ia merasa heran karena orang bisa melepaskan kehormatannya demi sepotong roti. Padahal seharusnya mereka memiliki tubuh yang sempurna dan utuh seperti kita.
“Apakah yang masih kurang di dalam diri kita yang membuat kita tidak bersyukur kepada Allah? Apakah hidup ini memang benar-benar hampa dan buruk? Apakah hidup ini sungguh-sungguh berarti bagi orang lain?” Betapa beruntungnya kita karena masih mempunya tubuh yang sempurna. Pekerjaan yang baik dan keluarga bahagia. Kita masih memiliki waktu untuk makan makanan yang enak, berpakaian rapid an menikmati hidup ini. Bagaimana dengan mereka yang kekurangan? Apakah hidup kita sedemikian buruk? Tidak. jika kita menyesali hidup ini, pikirkanlah seorang anakyang harus kehilangan sebelah tanganya untuk mengemis di pinggir jalan! Hal inilah yang seharusnya membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Apakah kita mengeluh dengan apa yang kita miliki saat ini? Renungkanlah dan bersyukurlah.
“Uang dapat memberi Anda sebuah istana yang megah, namun uang tidak dapat memberi Anda rumah yang penuh kasih sayang dan penghargaan dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Uang dapat dipakai untuk membayar dokter terbaik saat Anda sakit, namun uang tidak dapat memberi karunia kesehatan dari Tuhan. Uang dapat dipakai untuk membeli ranjang emas murni, namun uang tidak dapat membeli istirahat satu menit pun atau kedamaian hati. Uang dapat menarik perhatian banyak orang kepada diri Anda, namun uang tidak dapat membeli sahabat sejati yang sangat berharga. Uang dapat membeli buku-buku, namun uang tidak dapat membeli ilmu. Uang dapat membeli makanan, namun uang tidak dapat membeli nafsu makan yang sehat. Uang dapat membeli salib di leher Anda, namun uang tidak dapat membeli Juruselamat dalam hati Anda.”
(John Hagee)



