Selasa, 25 Mei 2010

"Bersykur kepada Tuhan"






Raja Daud berkata, "Tujukanlah pandanganmu Kepada-Nya (TUHAN),
maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu."
Mazmur 34:6


PERNAHKAH kita merasa bahwa hidup ini benar-benar buruk dan tidak berarti sama sekali? Adakah kehidupan di bagian dunia lain bisa membuka mata kita untuk melihat kenyataan yang ada? Kita berpikir bahwa hidup yang kita jalani justru telah menambah kesulitan dan beban kita. Segalanya menyebalkan dan tidak berguna. Namun semua itu akan berubah secara total jika kita menengok ke bagian dunia lain. Ada seseorang yang mempunyai dua pekerjaan dengan penghasilan yang minim, namun bisa bahagia dan bersukacita. Padahal dengan gaji yang minim ia menyokong kedua orangtua, mertua, istri, dan dua orang putri mereka ditambah banyak tagihan rumah tangga yang lain. Suatu kali ada seorang yang hidupnya berubah setelah mengikuti tur ke India. Ia melihat apa yang terjadi di depan matanya yakni seorang ibu yang rela memotong tangan kanan anaknya dengan sebuah golok.

Keputusasaan sang ibu dan jeritan sang anak berusia 4 tahun terus menghantuinya. Mengapa sang ibu tega memotong tangan anaknya? Apakah karena anaknya “nakal” atau karena tangannya terkena penyakit sehingga harus di potong? Tidak. Sang ibu memotong tangan anaknya agar bisa mengemis! Ia sengaja menyebabkan sanaknya cacat, agar bisa dikasihani oleh orang-orang yang ada di jalanan!

Itulah kenyataan. Ada hal yang mengerikan sedang terjadi di belahan dunia yang lain. Pengalaman orang ini semakin bertambah ketika ia berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan potongan kecil roti yang dimakan ke tanah. Dalam sekejap mata, segerombolan anak mengerubungi potongan roti kecil dan kotor itu untuk memakanya. Karena terkejut, ia menyuruh pemandunya mengantarnya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan membeli semua roti yang ada dengan membayar $100 untuk membeli 400 potong roti dan $100 lagi untuk barang keperluan sehari-hari. Ia kembali ke jalan dengan membawa satu truk roti dan barang keperluan sehari-hari untuk dibagikan kepada anak-anak yang cacat dan beberapa orang dewasa. Ia menerima imbalan yang tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang ini. Itulah sukacita pertama yang ia rasakan dalam hidupnya. Ia merasa heran karena orang bisa melepaskan kehormatannya demi sepotong roti. Padahal seharusnya mereka memiliki tubuh yang sempurna dan utuh seperti kita.

“Apakah yang masih kurang di dalam diri kita yang membuat kita tidak bersyukur kepada Allah? Apakah hidup ini memang benar-benar hampa dan buruk? Apakah hidup ini sungguh-sungguh berarti bagi orang lain?” Betapa beruntungnya kita karena masih mempunya tubuh yang sempurna. Pekerjaan yang baik dan keluarga bahagia. Kita masih memiliki waktu untuk makan makanan yang enak, berpakaian rapid an menikmati hidup ini. Bagaimana dengan mereka yang kekurangan? Apakah hidup kita sedemikian buruk? Tidak. jika kita menyesali hidup ini, pikirkanlah seorang anakyang harus kehilangan sebelah tanganya untuk mengemis di pinggir jalan! Hal inilah yang seharusnya membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Apakah kita mengeluh dengan apa yang kita miliki saat ini? Renungkanlah dan bersyukurlah.



“Uang dapat memberi Anda sebuah istana yang megah, namun uang tidak dapat memberi Anda rumah yang penuh kasih sayang dan penghargaan dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Uang dapat dipakai untuk membayar dokter terbaik saat Anda sakit, namun uang tidak dapat memberi karunia kesehatan dari Tuhan. Uang dapat dipakai untuk membeli ranjang emas murni, namun uang tidak dapat membeli istirahat satu menit pun atau kedamaian hati. Uang dapat menarik perhatian banyak orang kepada diri Anda, namun uang tidak dapat membeli sahabat sejati yang sangat berharga. Uang dapat membeli buku-buku, namun uang tidak dapat membeli ilmu. Uang dapat membeli makanan, namun uang tidak dapat membeli nafsu makan yang sehat. Uang dapat membeli salib di leher Anda, namun uang tidak dapat membeli Juruselamat dalam hati Anda.”

(John Hagee)


Senin, 24 Mei 2010

"Api dan Asap"






Rasul Paulus berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Roma 8:28

SUATU ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tidak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampungnya. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau yang tidak berpenghuni, sendirian, dan tidak punya bekal makanan.

Dia terus berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkan nyawanya. Setiap saat, dipandangnya ke seluruh penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang dapat merapat. Sayang pulau ini terlalu terpencil. Hampir tidak ada kapal yang mau melewatinya.

Lama-kelamaan, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu,untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah-rumahan, sekadar tempat untuk melepas lelah. Disusunyalah semua daun nyiur dengan cermat agar bangunannya itu kokoh dan bertahan lama. Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk pengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya.

Namun, ia terkejut. Semuanya hangus terbakar dan rata dengan tanah, hamper tidak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena api yang ia padamkan. Asap serta nyala api mulai membumbung tinggi sampai menghanguskan kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, “Ya, Tuhan, mengapa Engkau melakukan hal ini kepadaku? Mengapa? Mengapa?” teriaknya melengking menyesali nasib.

Tiba-tiba ….. terdengar bunyi peluit yang di tiup, “Tuittt …. Tuuiittt.” Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang untuk menghampiri pria yang menangisi gubuknya ini. Pria ini terkejut, lalu bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada di sini? Mereka menjawab, “Kami melihat symbol asap dari kamu!!”


"Hal yang perlu kita ingat adalah asap dari api di dalam hidup kita justru bisa menjadi symbol bagi orang lain untuk datang menolong kita. Semua hal yang terburuk yang dapat kita pikirkan akan selalu mendapat jawaban yang menyejukan dari Tuhan. Karena Ia mahatahu tentang hal-hal yang terbaik bagi hidup kita, asalkan kita tidak kehilangan harapan kepada Tuhan."

"Tuhan bimbinglah saya untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus pasrah, serta berkah untuk mengambil keputusan yang tepat dengan penuh keyakinan. Sebab keputusan hari ini merupakan kenyataan besok."

(Robert H. Schuller)

Minggu, 23 Mei 2010

"Apa yang Kau Lihat?"


Yohanes menulis tentang kata-kata Yesus,"Tidak ada Kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."
Yohanes 15:13


Pada Zaman dahulu hiduplah dua orang jendral perang besar, yakni Koresy dan Cagular. Koresy adalah raja Persia yang terkenal, sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Koresy. Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia dan membuat berang Koresy, yang berambisi menguasai perbatasan daerah selatan. Akhirnya, Koresy mengumpulkan seluruh pasukannya untuk mengepung daerah kekuasaan Cagular dan menangkapnya beserta keluarganya. Mereka semua dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke ruangan pengadilan. Kepala suku berdiri menghadap ke singgasana di mana Koresy duduk dengan perkasa. Koresy tampak terkesan dengan Cagular. Ia telah mendengar banyak hal tentang kegigihan Cagular.

"Apakah yang akan kamu lakukan apabila aku menyelamatkan hidupmu?" tanya sang kaisar.

"Yang Mulia," jawab Cagular, "bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba, maka hamba akan kembali pulang untuk tunduk serta patuh kepada Yang Mulia sepanjang umur hidup hamba."

"Apa yang akan kamu lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?" tanya Koresy lagi.

"Yang Mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, maka hamba akan bersedia mati untuk Yang Mulia," jawab Cagular.

Raja Koresy amat terkesan dengan jawaban Cagular, sehingga ia membebaskan Cagular dan istrinya. Ia bahkan mengangkat cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi sebelah selatan. Pada saat perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya kepada istrinya. "Istriku, tidakkah kamu melihat pintu gerbang kerjaan tadi? Tidakkah kamu melihat koridor ruangan pengadilan itu? Tidakkah kamu melihat kursi singgasana tadi? itu semua terbuat dari emas murnji!" Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, lalu menjawab, "Aku benar - benar tidak memperhatika semuanya itu."
"Oh begitu!" tanya Cagular terheran - heran, "kalau begitu apa yang kamu lihat tadi?" Istri Cagular menatap suaminya dalam - dalam, dan berkata, "Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku."



Apakah Anda tahu untuk apakah Anda bersedia mati?? Demi kekasih Anda?? Rumah?? Negara?? Keyakinan?? Kebebasan?? Cinta?? Anda pun perlu menemukan tujuan untuk apa Anda hidup. Hiduplah demi sesuatu yang membuat Anda bersedia untuk berkorban, bahkan rela untuk mati, maka Anda akan hidup dengan penuh keberanian. Karena Anda telah menemukan cara bagaimana Anda bisa berbahagia.^^



Kamis, 20 Mei 2010

“Semua terjadi karena suatu alasan”






















Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.


Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.

Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,
“Semua terjadi karena suatu alasan.”


Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.
Aku memiliki misi lain dalam hidup.
Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah.
Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan